Selamat pagi,
Pagi ini begitu bening dengan senyummu di pelupuk mata. Ternyata masih saja terus
kurindukan senyummu. Mendekapmu adalah kenikmatan ketika energiku serasa
mengalir deras. Bukan, bukan gairah yang meletup-letup, tapi mungkin cuma berupa
getar carut marut seluruh perasaan kita pada saat itu. Barangkali kamu pun seperti
itu sayang.
Kemarin hampir sepanjang waktu aku seperti selalu tercium baumu. Parfum dan
semua yang menguap dari tubuhmu. Apa yang akan kita lakukan setelah ini?
Pertanyaan itu menderu-deru sepanjang waktu sampai saat ini, tanpa bisa kita
jawab sempurna. Jika di satu waktu kita tahu bahwa tibalah segera saatnya kita
segera merenggangkan genggaman tangan. Kita tak bisa bertahan dengan cara
seperti ini. Jakarta sudah mengubah kita jadi semacam ini. Kota yang dulu di masa
remaja tak pernah kita inginkan jadi tempat bernaung, sudah menyedot kita begitu
kuat. Lihtlah hasilnya, bukan saja kediriian kita yang ikut terbawa, bahkan seluruh
sumsum rasa dan cara berpikir kita pun menjadi begitu rumit. Dari masa lalu, kita
tak lagi terlihat sederhana. Memandang diri kita sendiri saat ini dari masa lalu, akan
membuat kita tampak begitu konyol dan egois.