You Are Reading

0

Hanya untuk senyummu

anak baru GEDE Jumat, 09 Maret 2012
Aku pasti sudah sering menyebut sesuatu tentang hujan, hm... tepatnya gerimis.
Aku tidak tahu bagaimana asal mulanya, tapi ini sebenarnya mungkin sudah lama.
Dulu aku tidak pernah sadar benar, bahwa gerimis bisa menghadirkan pesona
seperti itu. Di kamar kost-ku yang kecil dan pengap itu, depannya ada beranda kecil,
dimana aku bisa duduk di depan pintu atau berdiri di depan jendela kamar
menikmati gerimis. Tuhan adalah pencipta yang penuh ide. Dibuatnya sebuah siang
merangkak menjadi senja dengan gerimis, sementara aku bisa duduk dekat jendela,
dengan segelas kopi panas dan jazz ringan di belakang... hm. Bisakah kamu
bayangkan itu? Pada saat seperti itu, aku begitu penuh. Aku duduk diam, bicara
dengan gerimis, tentang banyak hal, semua yang imajinatif atau nyata. Pesannya
begitu jelas, Dia susupkan pelahan selimutnya di sela taburan gerimis, juga bulir-
bulir yang merayap. Rasa damai itu merayap pelahan, mengisi seluruh kamar
sampai sudut-sudut hati, sambil menebar bau tanah basah. Kalau kita pejamkan
mata, sambil menghitung semua yang bisa disyukuri, damainya hampir seperti
ketika jam-jam senyap senggang, kita meniti tasbih.
Sejak itu, setiap gerimis selalu membangkitkan kembali suasana ritmis mistis. Aku
bisa membentangkan sayap-sayap mimpiku ke dunia nyata. Aku bisa mengulang lagi
pelajaran mengeja bahasa yang tak punya kata. Hanya melibatkan perasaan, pikiran
dan getaran-getaran purba. Jangan campur adukkan imajinasi dengan prasangka.
Kita adalah cermin eksistensi-Nya. Karena kita adalah dunia.
Pada tiap penggalan perjalanan, seperti itu, aku bisa mengukurnya dengan getaran
yang sama pada waktu yang lain. Seperti ketika hujan malam, dengan segelas besar
kopi panas buat kami bertujuh, di sebuah ruang yang sempit di sebuah sudut
Bandung yang lusuh. Aku dan teman-temanku tidur berdesakan. Hanya berdehem-
dehem, lalu ketawa kecil. Biasanya karena menertawakan ketololan kami sendiri.
Ada banyak yang bisa diceritakan, aku juga pilih diam. Cuma ada dingin menggigit,
ruang sempit dan mimpi tentang cinta yang sengit....:)

Aku sering tidak mengira bahwa mimpi bisa jadi sesuatu yang begitu kita
perhitungkan. Sebut saja misalnya soal asosiasi bebas itu, :). Lalu orang bisa seperti
berhadapan dengan puisi. Jika sajak hanyalah usaha menafsir gerak daun jatuh,
maka membaca sajak, adalah mengeja tafsiran maknanya. Gerimis adalah sajaknya,
dan duduk di depan jendela seperti yang kuceritakan, adalah caraku membacanya.
Kelak sayang, akan kuceritakan kembali apa yang kubaca dengan caraku. Aku
tambahkan potongan-potongan rinduku di sela-selanya. Seperti isyarat yang selalu
kukirimkan. Padamu sayang, ketika kita jauh seperti ini, kubangunkan bilik yang
kuisi dengan kristal-kristal kata. Tak akan ada lagi yang kubiarkan terlalu jauh
berjalan lalu terjatuh dalam hujan. Hanya untuk senyummu.
Semoga kita masih bisa terus berdamai dengan waktu.
Kurnia Allah atas senyummu

salam

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

anak baru GEDE
Lihat profil lengkapku
 
Copyright 2010 Ada apa dengan CINTA
by Distribution New Blogger Templates